Survei LSI : Gara-Gara Nazaruddin Pamor Demokrat Terjun Bebas

JAKARTA– Kasus yang membelit mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin dalam dugaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Kementerian Pemuda dan Olah Raga membuat pamor partai binaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu melorot.

Hasil Survei Nasional yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan terhadap 1.700 responden (pemilih) pada kurun waktu 1-7 Juni lalu mencatat, dukungan terhadap Partai berlambang segi tiga biru itu jatuh 5 poin pada Juni 2011, dari angka 20 % pada hasil survey terakhir, Januari 2011.

Temuan LSI ini disampaikan oleh pendiri LSI, Denny JA dalam konferensi pers di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (12/06).

Denny mengatakan, berdasarkan hasil survey ini, ditemukan fakta betapa kasus Nazaruddin yang mencuat hampir dua bulan terakhir ini memiliki daya rusak tinggi terhadap Partai Demokrat di mata pemilih.

“Kasus yang diduga melibatkan Nazaruddin kian menjadi bumerang untuk Partai Demokrat sendiri. Setelah kasus Nazaruddin ini mencuat, dukungan terhadap partai demokrat anjlok menjadi 15,5 % atau turun 5 poin, dari hasil survey terakhir pada Januari lalu yang mencapai 20,5 % sebelum kasus ini muncul,” kata Denny.

Adapun sebelum sampai pada kesimpulan ini, lanjut Denny, tim survey LSI mengecek beberapa variable, di antaranya seberapa besar kasus Nazaruddin ini diketahui oleh pemilih, apakah pemilih menduga adanya keterlibatan elite Demokrat lain dalam kasus dugaan suap di Kemenpora, apakah kasus ini mempengaruhi tingkat keterpilihan partai Demokrat, dan ke mana pemilih ini akan menjatuhkan pilihannya setelah pindah dari Demokrat.

Dari variabel pertanyaan ini, kata Denny lagi, sebanyak 41 % pemilih mengaku pernah mendengar kasus yang menyebut keterlibatan Nazaruddin, 45,3 % percaya bahwa petinggi Demokrat ikut terlibat (Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi Alfian Mallarangeng dan Anggota DPR RI Fraksi Demokrat, Angelina Sondakh).

Kemudian, 42,4 % pemilih menyatakan kasus ini mempengaruhi pilihan mereka terhadap partai Demokrat, dan 40 % dari 5 % dukungan yang hilang akan hengkang ke Partai Golkar, 9 % ke PDIP, 12 % ke partai lain, dan 39 % mengambang.

Menurut Denny, anjloknya dukungan terhadap Demokrat adalah yang pertama sejak 2009. “Ini yang pertama sejak 2009 Demokrat tidak menjadi nomor satu. Dan Golkar menjadi partai dengan dukungan tertinggi,” tegas Denny.

Untuk peringkat partai politik kata dia lagi, berdasarkan hasil survey ini, Partai Golkar menempati urutan pertama dengan dukungan pemilih 17,9 %, menyusul Demokrat 15,5 %, lalu PDIP 14,5 %.

Kasus Nazaruddin, kata Denny, telah membuat posisi Demokrat jadi melorot. Kalau saja Demokrat tidak melakukan blunder atas kasus ini, mungkin nasib Demokrat tidak akan separah ini.

Blundernya kasus Nazaruddin, menurut Denny, lantaran internal partai Demokrat tidak menangani kasus ini secara matang. Selain itu, sosok Nazaruddin yang seakan gagah perkasa, sampai-sampai himbauan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina pun seperti tidak didengar.

Masyarakat pun, kata Denny, akhirnya bertanya-tanya, apakah Nazaruddin memegang kotak pandora yang menyimpan rahasia gelap di elite demokrat?

“Hal ini yang menjadi pokok persoalan. Hukum besi politik akan terus berlaku, yaitu partai politik atau tokoh penting oartai politik yang membuat blunder akan segera mengerdilkan partai politiknya di mata pemilih,” tandas Denny. (OL-12)mediaindonesia.com

Buat Web Toko Online
Mau Jadi Agen Afiliasi di jagoanstore.com? GRATIS 250rb Langsung Jadi Milik anda!

Baca Juga :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s